Cari Blog Ini

Senin, 20 Juni 2016

Diduga Pejabat Dishutbun Indramayu, Ikut Nikmati Uang Korupsi

(Indramayu, Dialog)-Dugaan kasus korupsi program tebu rakyat dari Dinas Kehutanan pemerintah provinsi Jawa Barat, untuk dua kelompok tani di Indramayu yang diselewengkan oleh terdakwa penerima program, dan sudah merugikan negara sekitar Rp 884.896 juta. Jumlah kerugian tersebut berdasarkan audit Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Jawa Barat, Selasa (14/06).
Namun dalam perkembangannya, tersangka tidak melibatkan dua kelompok tani tersebut. Bahkan, tersangka melakukan kerjasama dengan koperasi jurang pereng untuk pengembangan program tersebut. Dana bantuan sebesar Rp 1,6 miliar tersebut tidak digunakan untuk kegiatan program tebu rakyat, dan Pejabat Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Indramayu diduga menerima aliran dana dari dua terdakwa korupsi program pengembangan tebu rakyat tahun 2011.
Kejaksaan Negeri Kabupaten Indramayu menunggu perkembangan dari Polres Indramayu, terkait tindak lanjut dari putusan majelis hakim dalam perkara korupsi program tebu rakyat tersebut.
Anggota Tim Pidana Khusus Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Indramayu, Bima Yudha Asmara kepada Awak Media  mengatakan, dalam putusannya, majelis hakim yang diketuai Naisyah Kadir meminta kepada pihak-pihak lain yang diduga turut berperan dalam kasus korupsi tersebut, diminta untuk ditindaklanjuti.“Hal ini berdasarkan keterangan dari Prayitno dalam sejumlah persidangan di pengadilan tindak pidana korupsi,” tuturnya
Ketua tim teknis dan Sekretaris tim teknis kegiatan, merupakan pihak yang disebut oleh Prayitno ikut berperan dalam dugaan korupsi program tebu rakyat.“Kejari akan berkoordinasi dengan Polres Indramayu  soal putusan dari majelis hakim ini,” Ujar Bima.
Pada pekan lalu, majelis hakim di pengadilan tipikor Bandung memvonis Prayitno dan Wawan Gunadi dengan pidana penjara masing-masing selama 5 (lima) tahun, denda masing-masing Rp 200.000.000 subsider masing-masing 2 (dua) bulan kurungan, uang pengganti kepada terdakwa Prayitno sebesar Rp 735.000.000. Jika tidak dibayar, diganti pidana penjara selama dua tahun dan kepada terdakwa wawan Gunadi, uang pengganti sebesar Rp 267.000.000, dan jika tidak bayar diganti penjara selama satu tahun enam bulan.
Bima Yudha Asmara mengatakan program bantuan dari Dinas Kehutanan Jawa Barat tersebut diduga diselewengkan oleh tersangka.“Dana pengembangan tebu rakyat, malah digunakan untuk investasi dengan pihak ketiga untuk pembangunan menara tower penguat sinyal (BTS),” Jelasnya.
Sementara itu, Kuasa hukum Wawan Gunadi, Ketua koperasi Jurang Pereng, Dede Supriatno mengatakan, terdakwa dan saksi telah memberikan kesaksian soal dugaan aliran dana ke pejabat Dishutbun Kabupaten Indramayu waktu itu.“Adanya aliran dana ke pejabat lain di Dishutbun sudah disampaikan dalam persidangan di pengadilan tipikor,” ungkapnya.

Dede Supriatno menambahkan, aliran dana yang dinikmati oleh pejabat Dishutbun Kabupaten Indramayu tersebut, membuktikan bahwa terdakwa tidak menikmati aliran dana tersebut secara sendiri, tandasnya.(dad/kad).

Diduga Dibuang Ibunya, Bayi Baru Lahir Ngambang di Saluran Tersier

(Indramayu, Dialog)- Senin (13/6) sekitar pukul 06.00 Wib, Seorang petani Toidin menemukan sesosok bayi berjenis perempuan yang tewas mengambang di saluran tersier, Blok Pegagan, Desa Ujung Gebang, Kecamatan Sukra. Bayi tersebut diduga kuat dibuang ibunya. Karena saat ditemukan, masih terdapat tali pusar yang menempel di perut sang bayi.
Berdasarkan informasi yang diperoleh Dialog, Jasadnya pertama kali ditemukan seorang petani setempat bernama Toidin, sekitar pukul 06.00 pagi. Saat itu Toidin hendak membuka pintu air. Tubuh bayi terbawa arus dan muncul kepermukaan. Awalnya Toidin tidak menduga bahwa benda yang mengambang dan terbawa arus itu adalah tubuh manusia. Pasalnya sepintas jasad bayi itu mirip boneka, karena posisi tubuhnya tengkurap.
Namun, setelah diamati Toidin curiga. Terlebih tubuh bayi yang awalnya dianggap boneka itu menebar bau busuk. Setelah memastikan bahwa itu tubuh manusia, saat itu juga Toidin memberitahukannya ke warga. Penemuan bayi itu sontak menggegerkan masyarakat. Petugas Reskrim Polsek Patrol bersama petugas Sub Sektor Sukra pun langsung menuju lokasi setelah mendapat laporan.
Kapolres Indramayu AKBP Eko Sulistyo Basuki SIK SH MH, melalui Kapolsek Patrol AKP Ginting Sumantri didampingi Kasub Sektor Sukra Iptu H Agus Supriyatno, mengatakan, bayi malang tersebut diduga kuat dibuang oleh orang tuanya. Untuk mengungkap pelakunya, pihaknya akan melakukan penyelidikan.“Pelaku yang diduga orang tuanya membuang bayi tersebut sesaat setelah melahirkan. Melihat kondisinya, dibuang dua atau tiga hari lalu. Saat dilahirkan bayi tersebut dalam keadaan normal dan bobotnya sekitar 3 kilogram,” jelas Ginting yang juga didampingi Kanit Reskrim Ipda H. Rasita.

Setelah berhasil dievakuasi, mayat bayi perempuan itu dibawa ke RS Bhayangkara Losarang untuk dilakukan otopsi. “Sejumlah saksi kini sedang dimintai keterangan. Mudah-mudahan dalam waktu cepat, pelakunya bisa segera kami tangkap,” kata Ginting. (dede).

Polres Indramayu Gelar Konfrontasi, Kasus Penganiayaan Mahasiswa Unwir

(Indramayu, Dialog)-Perkembangan kasus dosen pukuli mahasiswa dalam agenda konfrontasi para saksi korban dan pelaku di Polres Indramayu, Senin (13/6), ditemukan ada perbedaan keterangan saksi dengan peristiwa yang terjadi sebenarnya, korban Eko (22) salah satu pengurus BMI Indramayu yang juga Mahasiswa Universitas Wiralodra (Unwir) Indramayu,  menduga saksi sudah dikondisikan oleh para pelaku. Polisi diminta cerdas dan tak pandang bulu dalam mengusut kasus yang melibatkan pelaku HL (27) seorang Dosen Fisip di Unwir yang juga Pengurus DPC PP Indramayu,"Hasil konfrontasi tadi, keterangan saksi berbeda dengan kejadian sebenarnya. Kayaknya sudah dikondisikan," ujar korban, Eko usai menghadiri konfrontasi di Polres Indramayu.
Selain itu, Eko sendiri mencurigai soal keterangan polisi terkait hasil visum dirinya di RSUD Indramayu, dikatakannya memar dan bekas cakaran di punggungnya tidak muncul dalam keterangan visum yang disampaikan polisi."Hasil visumnya juga aneh, ko hasil cakaran di punggung saya tidak ada. Ini ada apa?" Katanya.
Tarsana Salah satu saksi, kepada Wartawan menjelaskan, bahwa benar hasil konfrontasi tadi sangat membingungkan."Ga tahu saya pusing tadi," ujarnya.
Sementara, ketua BMI Indramayu, Sahali mengatakan, pihaknya meminta kepolisian Indramayu untuk cerdas dalam menangani kasus penganiayaan yang pelakunya merupakan salah satu keluarga dari penguasa di Indramayu tersebut."Polisi harus cerdas lah dalam mengusut kasus ini, soalnya pelaku adalah salah satu keluarga dari Penguasa di Indramayu. Kami yakin kepolisian bisa menindak dan tidak pandang bulu," katanya.
Sebelumnya, Kapolres Indramayu, Eko Sulistiyo juga mengatakan, terkait hasil visum korban di RSUD Indramayu menurutnya sangat lamban. Hingga pihak kepolisian sendiri yang meminta dan menghubungi pihak RSUD untuk segera diberikan."Baru hari ini diberikan, padahal sudah lama. Itu pun setelah kami hubungi," katanya pada saat audensi dengan masa aksi Gerakan Rakyat Indramayu.(kad/dad)



Sambutan Kepala SMPN 3 Gantar Kalipan SPd pada pengumuman  kelulusan kelas IX sabtu 11 Juni 2016.

(Indramayu, Dialog)- Pengumuman kelulusan para siswa kelas IX SMPN 3 Gantar Kabupaten Indramayu dilaksanakan sabtu malam (11/6) seusai ditunaikannya sholat isya dan tarawih bertempat di halaman sekolah. Petang itu,  menjelang maghrib para siswa kelas IX berdatangan ke sekolah, masing-masing membawa sajadah dan makanan. Begitu tiba waktu maghrib, setelah minum mereka sholat maghrib berjamaah, kemudian buka bersama. Hadir pada kesempatan itu Kepala Sekolah Kalipan SPd, Wakasek, guru-guru, dan karyawan tata usaha.
            Setelah sholat isya dan sholat tarawih, acara dilanjutkan dengan sambutan Kepala Sekolah dan pengumuman kelulusan. Dalam sambutannya Kalipan SPd menyatakan  gembira karena buka bersama itu menunjukkan kekompakan dan eratnya jalinan silaturahmi diantara pendidik dengan peserta didik. Ia mengajak kepada para siswa untuk senantiasa bersyukur bahwa Allah Swt telah menganugerahkan keajaiban kepada diri kita masing-masing berupa mata, telinga, dan hati, sehingga dapat melihat, mendengar, dan merasakan. Dengan keajaiban panca indra itu kita bisa belajar berbagai ilmu pengetahuan.
“Kita bersyukur bahwa proses pendidikan telah berlangsung dengan aman dan lancar sesuai dengan tahapan yang telah ditentukan. Nilai yang diperoleh dalam ujian nasional merupakan hasil kerja para siswa sendiri karena memang UN merupakan ujian yang penuh dengan integritas dan kejujuran. Saya harapkan para lulusan mau dan mampu meneruskan pendidikannya ke SLA”, kata Kepala Sekolah.
Menurut Wakasek bidang Akademi Saifudin Zuhri SPd, siswa kelas IX SMPN 3 Gantar tahun pelajaran 2015/2016 sebanyak 82 orang, lulus semuanya. Tiga orang yang meraih nilai tertinggi pada ujian nasional adalah Nurmala Ayu Lestari dengan perolehan nilai 248, Ani Nurlaela dengan nilai 226, serta Dewi Roh Larasati dengan nilai 224,5.
Dalam suasana menjalankan ibadah puasa, siswa SMPN 3 Gantar melaksanakan berbagai aktivitas pembelajaran akademik yang bersifat religious . Setelah pengumuman kelulusan diadakan dalam suasana tasyakuran, kegiatan keagamaan dilanjutkan dengan pesantren ramadhan yang diadakan dari 16 sampai 20 Juni 2016 diikuti para siswa kelas VII dan VIII. Kemudian diadakan gerakan mengumpulkan zakat fitrah, serta membagikan hasil zakat fitrah bagi para mustahik baik masyarakat lingkungan sekolah maupun di lingkungan para siswa itu sendiri. Kegiatan rohani yang merupakan salah satu bentuk ekstra kurikuler adalah diadakannya bimbingan baca tulis Al-Qur’an terhadap para siswa, Bimbingan itu dilaksanakan oleh 3 orang guru agama yaitu Kusnadi SpdI, Moh. Zakaria SpdI. Dan Afifudin MPdI.
Kaitannya dengan penerimaan siswa baru, dalam penjelasannya kepada Dialog, Kepala Sekolah mencanangkan akan menerima 4 rombel sebanyak 144 siswa baru yang berasal dari 5 SD pendukung. Menyambut akan dijadikannya SMPN 3 Gantar sebagai pilot proyek kurtilas pada tahun pelajaran 2016/2017, maka Kalipan SPd memprogramkan adanya kelas unggulan dimana para peserta didik baru yang memiliki AQ diatas rata-rata dikumpulkan dalam satu rombongan belajar sehingga memudahkan dalam pembinaan dan pembimbingannya.

“SMPN 3 Gantar selalu berupaya guna meningkatkan prestasi akademik. Sesuai dengan visi dan misi sekolah, salah satu tujuan sekolah ini adalah menghasilkan lulusan yang berakhlakul karimah, berbudaya, dan kompetitif dengan menunjukkan kualitas seluruh mata pelajaran serta peraihan prestasi yang memuaskan ditandai dengan peningkatan kualitas kelulusan dan ketuntasan belajar”, pungkasnya. (syafrudin/dedi s)

Jutaan Butir Petasan Hendak Dikirim Keluar Daerah, Berhasil Digagalkan Aparat

(Indramayu, Dialog)-Hendak dikirm ke luar daerah, Jutaan butir petasan berhasil digagalkan jajaran Polsek Jatibarang, Jumat (10/6). Petugas juga mengamankan pengemudinya, Sudono (48), warga Desa Lobener Lor Kecamatan Jatibarang Kabupaten Indramayu beserta barang bukti satu unit mobil Pic Up yang digunakan mengangkut petasan tersebut.
Kapolres Indramayu AKBP Eko Suulistyo Basuki SIK SH MH melalui Kapolsek Jatibarang Kompol Asep Wawan SH mengatakan, keberhasilan anggotanya menggagalkan pengiriman jutaan petasan itu berawal saat mobil Pic Up nopol E 8488 PN tersebut tengah melaju di Jalan Raya Jatisawit Kecamatan jatibarang. Pikap warna hitam itu kemudian menyalip mobil petugas yang tengah patroli.
Melihat ada mobil Pic Up yang membawa muatan itu, petugas menaruh curiga. Saat itu juga petugas mengejarnya hingga kemudian kendaraan tersebut berhasil dihentikan. Petugas kemudian menghampirinya dan meminta surat kendaraan,serta menanyakan isi muatannya.“Pengemudinya berusaha mengecoh petugas dengan meyakinkan bahwa muatan yang dibawanya itu kerupuk udang. Namun, petugas tidak percaya begitu saja, kemudian mengeceknya,” ujarnya didampingi Kanit Reskrim Ipda Marsad.
Awalnya petugas melihat tumpukan dus yang berada di atas memang di dalamnya kerupuk. dalam jumlah banyak, petugas pun langsung mengamankannya.“Saat itu juga barang bukti petasan beserta mobil dan pengemudinya langsung dibawa ke Mapolsek Jatibarang. Petasan jenis korek api tersebut ada sebanyak 125 dus. Setelah dihitung keseluruhan, jumlahnya ada 1.444.000 butir,” jelas Kapolsek.

Kapolsek menambahkan, jutaan butir petasan itu rencananya hendak dikirim ke wilayah Sumedang. “Saat dilakukan pemeriksaan, pengemudinya mengaku bahwa barang petasan tersebut mau dikirim ke pembelinya di Sumedang. Digagalkannya pengiriman petasan ini, sebagai upaya menciptakan kondusivitas di bulan suci Ramadan,” pungkasnya.(armo).

Dua Rumah Ludes Terbakar Saat Ditingggal Sholat Taraweh




(Indramayu, Dialog)-Jumat (10/6) sekitar pukul 19,30 WIB. sijago merah melalap Dua Rumah di Desa Cikedung Lor Blok Bojong Cingcing, Kecamatan Cikedung Kabupaten Indramayu.  Dalam kebaran itu tidak ada korban dalam peristiwa tersebut, namun akibat kejadian itu, diperkirakan warga mengalami kerugian puluhan juta rupiah.
Peristiwa Kebakaran di Desa Cikedung Ini, terjadi, saat kondisi rumah sedang sepi dan pemilik rumah sedang melaksanakan ibadah shalat tarawih di masjid setempat, warga yang mengetahui peristiwa kebakaran tersebut berhamburan dan berusaha mendatangi lokasi kejadian.
Dari keterangan yang berhasil diperoleh Dialog, peristiwa kebakaran ini, awalnya diketahui oleh warga setempat yang bernama eko yang tak lain merupakan tetangga korban, saat itu, eko yang sehabis berbuka puasa dengan keluarganya, keluar untuk membeli keperluan dengan melewati rumah korban, namun ketika keluar dari rumah tiba tiba saja di kagetkan dengan melihat adanya kabut asap.
Mengetahui itu, kemudian eko langsung berteriak meminta pertolongan kepada warga setempat untuk memadamkan api termasuk melaporkan peristiwa itu kepada pihak kepolisian setempat, warga yang mendengar teriakan kemudian berbondong bondong mendatangi lokasi kejadian dan berusaha memadamkan kobaran api dengan peralatan seadanya.
Namun karena besarnya api dan dengan peralatan yang seadanya warga kewalahan untuk menjinakan kobaran api, setelah beberapa jam dan dengan dua unit mobil kebakaran yang tiba dilokasi api baru bisa dipadamkan."peristiwa kebakaran ini, sangat singkat sekali, saat itu saya hendak membeli sesuatu kebutuhan dengan melintasi rumah korban, namun bersamaan dengan itu, melihat ada asap yang disertai api,” ujar eko.
Dikatakan Eko, pihaknya tidak tahu penyebab pastinya kebakaran tersebut, dirinya pun kaget ketika keluar dari rumah kemudian melihat ada api disebuah rumah milik carniti tersebut.“kobakaran api itu sangat besar, sehingga seketika melalap seisi rumah korban,” ungkapnya.

Sementara itu, Cariti (50) pemilik rumah yang tampak shok saat dimintai keterangannya mengatakan, dirinya tidak menyangka bahwa rumahnya akan ludes terbakar, namun pihaknya tetap bersyukur bahwa anaknya yang pada saat kejadian ada di dalam rumah berhasil di selamatkan.“ketika itu, saya sedang shalat tarawih di masjid, sedangkan  di dalam rumah hanya ada anak saya,” ungkapnya.(sukim).

Diduga Sakit Tidak Kunjung Sembuh, IRT Nekad Gantung Diri

(Indramayu, Dialog)- Rasinah (45) Seorang Warga Desa Lobener Lor Blok Kebon Kopi Kecamatan Jatibarang kabupaten Indramayu, ditemukan tewas mengenaskan dengan posisi tergantung di sebuah tiang  rumah kosong milik warga setempat, Jumat (10/6).
Korban yang belakangan diketahui berprofesi sebagai Ibu rumah tangga tersebut, di temukan oleh warga dalam keadaan tergantung disebuah tiang kuda-kuda atap rumah kosong milik Aso yang terletak di blok Kebon Kopi Desa Lobener Kecamatan Jatibarang Kabupaten Indramayu dengan mengunakan tali tambang plastik warga putih.
Berdasarkan informasi yang berhasil diperoleh Dialog, peristiwa penemuan itu, bermula ketika Iman warga desa setempat yang melintasi dilokasi kejadian, saat itu iman hendak bersilaturahmi kepada warga tiba tiba saja terlintas melihat sosok orang yang tergantung.
Mengetahui itu, iman kemudian mendekatinya guna untuk memastikan, kemudian langsung melaporkan peristiwa itu kepada warga setempat termasuk juga ke aparat desa dan kepolisian, warga yang mendengar informasi tersebut kemudian berbondong bondong mendatangi lokasi kejadian perihal adanya sosok mayat yang tergantung disebuah tiang rumah kososng tersebut, bersamaan dengan tu, kemudian polisi yang datang di lokasi kejadian bersama warga kemudian mengevakuasi jasad korban.
Kapolres Indramayu AKBP Eko Sulistyo melalui Kapolsek Jatibarang Kompol Wawan didampingi Kasubag Humas Polres Indramayu AKP Ramauli membenarkan adanya informasi tersebut, menurutnya, pihaknya masih melakukan penyidikan lebih lanjut terkait penemuan sosok mayat yang tergantung di tiang disebuah rumah kosong milik warga tersebut. “Identitas korban di ketahui bernama Rasinah Binti Cardiman (45) seorang Ibu rumah tangga Asal Desa lobener Kecamatan Jatibarang Kabupaten Indramayu,” ungkapnya.
Wawan mengatakan, dari hasil olah TKP, pihaknya mengamankan sejumlah barang bukti diantaranya adalah tambang tali warna putih yang melilit di leher korban yang menyantol disebuah tiang rumah.“Peristiwa ini masih kami lakukan pengembangan penyelidikan lebih lanjut guna untuk memastikan penyebab kematian korban tersebut termasuk meminta keterangan dari sejumlah saksi saksi ditempat kejadian,” ungkapnya.

Wawan menambahkan, Dari hasil keterangan sementara yang di dapat petugas di lapangan, bahwa korban depresi akibat penyakit yang dideritanya sehingga ia nekat menghabisi nyawanya dengan cara gantung diri di sebuah tiang dirumah kosong, sedangakan jasad koban dengan persetujuan keluarganya kemudian dimakamkan di tempat pemakaman umum desa setempat, tuturnya.(dino).