Kamis, 25 Mei 2017

Bangunan Gedung Balai Wartawan Perwakilan PWI Indramayu Mangkrak






Mangkrak – memprihatinkan kalau melihat bangunan gedung makrak seperti ini. Bangunan gedung Perwakilan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Indramayu, yang seharusnya menjadi kebanggaan para Wartawan yang tergabung dalam wadah PWI dan menjadi tempat untuk berkumpulnya para kuli tinta. Sejak dibangun tahun 2015 sampai saat ini tidak ada kejelasan akan dilanjutkan pembangunannya oleh Pemerintah Kabupaten Indramayu. Bangunan Gedung PWI yang diharapkan oleh para Kuli Tinta sudah bisa digunakan, dibiarkan saja Makrak bahkan tumbuh subur rumput dan ilalang.(Foto-Dadang/Dialog).  

Pohon dibiarkan






DibiarkanPohon Mangga milik Warga di Jalan Siliwangi Kelurahan Paoman Kecamatan/Kabupaten Indramayu. Yang jaraknya sekitar 50 Meter dari kantor Kelurahan Paoman dibiarkan saja baik oleh Pemilik pohonnya maupun oleh pemerintah walaupun dahan yang rimbun daunnya sudah menyeberang dan menutup jalan tersebut. Hal itu mengkhawatirkan pengguna jalan akan tertimpa dahan pohon mangga tersebut.(Foto-Dadang/Dialog).

Jumat, 27 Januari 2017

Memfasilitasi Siswa Meraih Prestasi Di SMAN 1 Haurgeulis





Kepala SMAN 1 Haurgeulis  Drs. Asep  Ramli MSi.

Indramayu, Dialog- 19/01/2017- “Sekolah senantiasa selalu memfasilitasi siswa agar mereka berprestasi baik dalam bidang akademik maupun non akademik”. Demikian dikemukakan Kepala SMAN 1 Haurgeulis Drs. Asep Ramli MSi ketika ditemui Dialog kamis (19/1) di ruang kerjanya yang dihadiri pula Wakasek Sarpras Noman Supandi SE dan Wakasek Pengembangan Mutu Ambar Triwidodo SPd.
Dijelaskan, dibidang akademik guru-guru memberikan bimbingan pengembangan mutu terhadap siswa ketika menghadapi olympiade akademik serta mengadakan pendalaman materi pelajaran dalam menghadapi ujian smester dan ujian nasional. Sedangkan dibidang non akademik, sekolah melengkapi sarana olahraga dan kesenian serta mengadakan latihan yang lebih intensif dalam menghadapi even pertandingan.
Beasiswa Bidik Misi
Dengan memberikan fasilitas seperti itu, hasil yang dicapai memuaskan sesuai dengan yang diharapkan. Dibidang akademik, pada tahun akademi 2016/2017 ini ada 20 siswa lulusan SMAN 1 Haurgeulis tahun 2016 yang tengah mengikuti kuliah di berbagai perguruan tinggi dengan mendapatkan beasiswa “program bidik misi” pemerintah.
Ke 20 lulusan itu kuliah di UNPAD 5 orang, UIN 3, Guna Dharma 3, IPB 3, UPI 2, Univ. Siliwangi 2, Unsika Karawang 1, dan di STAN Jakarta 1 orang. Sesuai program pemerintah, bea siswa bidik misi diberikan kepada lulusan SLTA yang berasal dari keluarga kurang mampu dibidang ekonomi namun memiliki prestasi yang bagus dibidang akademik.
Menghadapi tahun akademi 2017/2018 mendatang, SMAN 1 Haurgeulis saat ini sedang mempersiapkan guna merekomendasikan 120 siswa agar bisa mengikuti program beasiswa bidik misi dari pemerintah melalui Kemenristek Dikti. Dalam pengajuan rekomendasi sejak pemenuhan berkas persyaratan hingga pendaftaran ulang di perguruan tinggi negeri, siswa tidak dipungut biaya sedikitpun karena sekolah menanggulangi seluruh biaya yang diperlukan.
Prestasi Olahraga
Sedangkan dibidang non akademik, siswa SMAN 1 Haurgeulis pada tahun pelajaran 2016/2017 berhasil menunjukkan prestasi dalam berbagai pertandingan baik yang diadakan di Indramayu, Bandung maupun kota-kota lainnya.
Prestasi paling akhir, diraih siswa Azis Rijal Mukhlis dalam Kejuaran Karate Terbuka wilayah III Cirebon yang diadakan di Majalengka pada bulan Desember 2016. Pada kejuaraan itu, Azis berhasil menjadi Juara II Kata Beregu Junior Putra. Sedangkan siswa Rendi Ardiyanto meraih prestasi dalam kejuaran Taekwondo tingkat nasional yang diselenggarakan oleh UPI Bandung dengan menjadi Juara III Kyorugi under 73 kg.
Sebelumnya, siswa SMAN 1 Haurgeulis menjadi juara 2 utama LCCK Wira dan Juara 2 Madya KPM pada arena Jumbara PMR Kabupaten Indramayu, Juara Purwa 3 pada ajang LKBB se Jawa Barat, DKI dan Banten yang diadakan di SMKN 1  Losarang, serta beberapa juara dalam lomba kepramukaan yang diadakan oleh STKIP 11 April Sumedang. (syafrudin/dedi),

Untuk memenuhi Ketersediaan Buku Pelajaran Sekolah, Penerbit Erlangga Gelar Bazaar Buku








Dialog, Indramayu  - 23/01/2017 – dengan Motto “ Kami Melayani Ilmu Pengetahuan “, nampaknya tidak berlebihan bagi Penerbit Erlangga, pasalnya Penebit yang lebih banyak menerbitkan buku-buku untuk pendidikan yang sudah berkecimpung di Kabupaten Indramayu sekitar dua puluh tahun  lamanya, tentunya sudah dikenal dikalangan masyarakat khususnya di dunia pendidikan.” Kami selalu siap melalayani ilmu pengetahuan khususnya di Indramayu dengan menyediakan akan kebutuhan buku-buku yang dibutuhkan baik untuk Siswa maupun untuk para guru. Seperti halnya sekarang ini kami menggelar Bazaar Buku dihalaman sekolah SDN Margadadi I, II, III, IV, V, Dan SDN Margadadi VI dalam rangka selain kami mendekatkan diri dengan orang tua Siswa maupun siswa, juga menunjukkan bahwa kami tidak saja menjual lewat sekolah, yang terkadang dianggap memaksa untuk membeli buku-buku kami. Padahal tidak ada pemaksaan sama sekali untuk membeli buku-buku kami. Dan harganyapun sama baik yang dijual melalui sekolah, dijual di toko-toko buku, maupun dengan Bazaar seperti sekarang ini  “ jelas Akiri Sahyani (30) salah seorang karyawan Penerbit Erlangga yang juga penanggung jawab bazar, kepada Dialog Senin (23/01).
Dikatakan Akir (sapaan Akrab Akiri), dalam bazaar buku ini kami menyediakan buku-buku pelajaran sebagai sumber belajar baik di sekolah maupun di rumah. Karena buku yang ada disekolah tidak bias dibawa kerumah, sehingga kami mencoba menawarkan buku-buku pelajaran yang sama seperti yang ada disekolah untuk bisa dimiliki Siswa untuk dapat digunakan sebagai sumber belajar di rumah, “ selama ini buku yang disediakan sekolah kapasitasnya tidak bisa dibawa kerumah, tentunya itu akan menghambat akan kegiatan belajar anak di rumah. Apalagi kalau harus mengerjakan PR, tentunya anak maupun orang tua akan mengalami kesulitan untuk sumber belajarnya. Dan dengan adanya kami penyediakan penjualan buku-buku pelajaran setidaknya dapat membantu para orang tua dan siswa untuk memudahkan memperoleh sumber belajar, “ tuturnya.
Lebih lanjut Akir mengatakan,  sekarang ini kami menyediakan buku-buku pelajaran untuk kelas 1 sampai kelas 6, sementara ini kami baru menyediakan mencetak  buku tematik terpadu untuk kelas 1 dan kelas 4 yang mengacu pada revisi kurikulum  tahun 2013 (Kurtilas). Dan untuk kelas 2, 3,5 dan kelas 6 kemunginan dicetak tahun depan. Hal itu Karen kita mengikuti regulasi pemerintah hasil revisi Kurtilas. Dan di tahun ajaran baru 2017 akan dicetak tematik terpadu tambahan menjadi kelas 1,2,4 dan kelas 5, sementara untuk kelas 3 dan 6 kita masih tawarkan dengan buku KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) tahun 2006. Keculi bagi sekolah-sekolah sebagai pailot project sudah disediakan buku tematik terpadu dari kelas 1 sampai kelas 6, katanya.
Akir menambahkan, dengan adanya pola penjualan seperti Bazaar ini, kita bisa lebih dekat dengan orang tua siswa, sehingga keluhan-keluhan apapun dari orang tua siswa bisa langsung kami terima, baik itu keluhan kualitas buku, harga atau apapun.” Pada intinya kami Penerbit Erlangga khususnya di Kabupaten Indramayu siap menunjang dunia pendidikan yang berkualitas. Dan kami hadir di Indramayu siap melayani kebutuhan buku mulai dari Kober, TK, SD, SMP, SMA/SMK/Sederajat, serta Perguruan Tinggi. Dan kami juga melayani kebutuhan buku untuk peningkatan Mutu baik untuk Guru maupun Kepala Sekolah yang berkaitan dengan Kurtilias. Kalau nanti kami dibutuhkan akan penyediaan buku silahkan hubungi tim kami dilapangan maupun bisa datang langsung ke kantor kami di Perumahan Griya Asri 2 Jalan Aster No. 57 Pekandangan Kecamatan Indramayu,” pungkasnya.
Sementara itu, Hj, Iyus Rusyati, S.Pd.SD, Kepala SDN Margadadi 3 saat dimintai komentarnya mengatakan, dengan pola penjualan buku pelajaran seperti Bazaar ini merupakan pola yang baru dilakukan pihak penerbit, yang biasanya dititipkan melalui pihak sekolah. Hal itu dilakukan karena kami pihak sekolah tidak mau dikatakan mengkordinir untuk pembelian buku pelajaran. Bahkan kami juga tidak mau dianggap melakukan kegiatan Pungli (Pungutan Liar). Makanya kami menyarankan pihak Penerbit untuk menjual langsung ke orang tua siswa, tuturnya.
Iyus menambahkan, sebenarnya dengan cara menjual langsung seperti pola Bazaar Buku yang dilakukan pihak Penerbit tidak melalui sekolah. Banyak orang tua siswa yang mengeluh kepada kami. Karena kalau dengan pembelian langsung karena memang buku pelajaran sangat diperlukan sehingga mereka harus membeli secara kontan. Sementara kalau lewat sekolah, bagi orang tua siswa yang kurang mampu bisa kami bantu dengan meminta kepada pihak penerbit untuk dapat dicicil, “ apa boleh dikata, karena kami tidak mau dianggap  mengkoordinir, memaksa, bahkan dianggap pungli, sehingga pembelian buku pelajaran yang dibutuhkan untuk beli langsung ke toko-toko atau ke Bazar Buku. Konsekwensinya tentunya harus dibayar kontan,” tandasnya.
Ditempat terpisah,  Salah seorang orang tua Muhamad Nazir Siswa Kelas 1 SDN Margadadi III saat dimintai komentarnya mengatakan, sebenarnya kalau bagi saya, untuk pembelian buku pelajaran yang dibutuhkan bagi anak-anak  lebih efektif disediakan disekolah melalui koperasi sekolah. Karena selain memang buku yang dibutuhkan yang harus dipakai di sekolah, juga tidak repot-repot ke toko-toko atau antri membeli di Bazaar Buku, “ kalau penjualan buku pelajaran melalui sekolah dianggap pungli, saya pikir itu tidak benar. karena agar anak-anak kita tidak ketinggalan pelajaran dan biar pinter tentunya sangat membutuhkan buku pelajaran, sementara buku-buku pelajaran dari sekolah tidak bisa dibawa ke rumah, konsekwenisnya ya harus beli. Dan beli di sekolah maupun di luar itu sama saja dan harganyapun sama. Jadi kalau beli di sekolah dianggap pungli itu dasarnya apa, dan waktu kami membeli buku pelajaran di sekolah tidak merasa dipaksakan,” tegasnya. 

Hal senada juga dikatakan Ambar Maharani (43)  Orang tua siswa Kelas 6 SDN Margadadi IV, Ia mengatakan, kalau pembelian buku pelajaran lebih nyaman melalui sekolah, dan tidak harus orang tua membeli di toko-toko atau datang ke Bazaar Buku seperti ini.” Bagi saya sih, lebih baik penjulan buku pelajaran yang dibutuhkan anak saya melalui koperasi sekolah. Kalau penjualan buku dianggap pungli itu aneh, kan kita beli buku dan ada bukunya. Saya sih berharap penjualan buku pelajaran kedepan agar kembali lagi melalui Koperasi sekolah, tidak harus repot-repot ke toko buku atau datang ke Bazaar Buku,“ pintanya.(dadang).

Sabtu, 10 Desember 2016

Unit PPA Polres Indramayu Tidak Profesional


Tersangka DPO Lilis Dewiyanti


Sersan Mayor TNI Ismunadi

Indramayu, Dialog  - 29/11/2016 – Sersan Mayor TNI Ismunadi (41), yang bertugas di Komando Distrik Militer (KODIM) 0616 Indramayu sebagai Kepala Kelompok Tata Usaha Urusan Dalam (TUUD) , sangat kecewa atas kinerja Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Reskrim Polres Indramayu yang tidak profesional. Pasalnya kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga  (KDRT) yang dialaminya dan telah dilaporkan ke pihak Polres Indramayu sebagai tersangka Lilis Dewiyanti Binti sutrisno (41) selaku Istrinya warga Blok Celeng Desa Lohbener Kecamatan Lohbener Kabupaten Indramayu, sampai dengan saat ini  kasusnya belum sidangkan ke Pengadilan Negeri (PN) Indramayu. Hal itu karena tersangka Lilis Dewiyanti sudah dinyatakan DPO (Daftar Pencarian Orang) Polres Indramayu, berdasarkan Surat DPO Nomor : DPO/01/I/2016/Reskrim. Dan juga tersangka sudah dipecat sebagai PNS yang bekerja di RSUD Indramayu, karena telah meninggalkan tugas selaku PNS selama sembilan bulan,“ jangankan di sidangkan ke PN Indramayu, berkas tersangka Lilis yang sudah P 21 di Kejaksaan Negeri (Kejari) Indramayu, karena pihak PPA tidak profesional tidak bisa menghadirkan Tersangka dan barang bukti, sehingga berkasnya dikembalikan lagi ke Polres Indramayu. Padahal sudah P 21, “ tandasnya.
Dikatakan Ismunadi,  sebenarnya Lilis yang sekarang ini masih statusnya Istri saya, sebelumnya pernah di vonis Penjara selama 4,5 Bulan sekitar pertengahan tahun 2015  karena kasus KDRT terhadap saya kejadian tanggal 22 April 2015.” Saya pikir setelah si Lilis menerima Vonis penjara selama 4,5 Bulan atas kasus KDRT terhadap saya, dirinya merubah sikap lebih baik dan menghargai suami juga tidak melakukan KDRT lagi. Namun itu ternyata tidak ada perubahannya atau si Lilis tidak sadar. Sehingga KDRT tarhadap saya yang kedua dilakukan si Lilis pada 10 Mei 2015, saya laporkan lagi. Dimana kejadian KDRTnya saat saya sedang menggendong anak saya yang paling kecil saya didorong sehingga jatuh dan kepala saya menimpa ayunan sampai berdarah, “ jelasnya.
Lebihlanjut Ismunadi mengatakan, kekecewaan  saya terhadap unit PPA Polres Indramayu, karena Kanit PPA Iptu Anis, jelas tidak menahan si tersangka Lilis pada 7 Maret 2016 saat diamankan dibawah kolong tempat tidur dirumah temannya saudara Ebah di Kelurahan Kepandean Kecamatan Indramayu. Padahal saat itu Berkas tersangka Lilis sudah P 21 di Kejaksaan. Yang juga membuat saya kesal, setiap IPTU Anis dihubungi lewat Handphone tidak pernah menjawab, bahkan saya datang ke kantornya dia selalu tidak ada, ahkirnya saya coba sekitar jam 07 pagi, saya sudah ada di kantor Unit PPA,  IPTU Anis tidak tahu bahwa saya sudah ada dikantornya. Akhirnya saya bisa ketemu, dan saya menyampaikan unek-unek saya dan menanyakan kinerja Unit PPA terhadap kasus saya, dia hanya mengatakan minta maaf berulang-ulang kali, “ coba bayangkan saya saja yang merupakan Anggota TNI, kasus saya diperlakukan seperti ini, apalagi masyarakat biasa,” tandasnya.
Dikatakan pula Ismunadi, sekitar tanggal 16 Agustus 2016, saya mendapat Washap dari H. Erma selaku JPU Kejari Indramayu yang menangani kasus tersangka Lilis, dalam washap mengirimkan surat berkas tersangka Lilis yang sudah P 21 dikembalikan lagi ke Polres Indramayu. Didasari atas pengembalian berkas tersangka Lilis dikembalikan lagi ke Polres Indramayu. Akhirnya hal itu karena saya sudah melaporkan Iptu Anis ke Propam Polres Indramayu, yang diterima Kanit Propam Iptu Sarjio, Surat pengembalian Berkas yang sudah P 21 sebagai bahan bukti dalam sidang Kode Etik pada tanggal 18 Agustus 2016. Dimana Iptu Anis dan Bripka Sarwan selaku bawahan Iptu Anis yang juga saya Laporkan ke Propam, dijatuhi hukuman sidang Propam yakni keduanya menerima sanksi pertama tidak mendapatkan kenaikan tunjangan selama satu tahun, kedua tidak boleh mengikuti pendidikan selama satu tahun dan ketiga masih diwajibkan untuk mencari tersangka Lilis sampai ketemu, “saya pesimis atas kasus yang saya laporkan ini, jangankan sekarang berkas P 21 nya sudah dikembalikan lagi ke Polres, waktu P 21 nya masih ada di Kejaksaan saja tidak selesai, “ keluhnya.
Disinggung sebenarnya tersangka Lilis kabur bersama siapa, Ismunadi mengatakan,   itulah yang membuat saya geram kepada pihak kepolisian, saat ditangkap dan diperiksa di Unit PPA, si tersangka Lilis dilepaskan karena ada penjaminnya yaitu Yanto Budiharja dari Cirebon yang merupakan selingkuhannya waktu ketemu di dalam penjara, dan ironisnya bahwa selingkuhannya itu adalah residivis kurir narkoba, seharusnya ditanya dulu si Yanto Budiharja selaku penjamin Lilis untuk tidak ditahan, sebagai apa dan siapa “ seorang residivis kok bisa menjadi penjamin tersangka untuk tidak ditahan, inikan suatu keteledoran pihak Unit PPA, justru saya curiga menduga  ada   permainan uang didalam dilepaskannya tersangka Lilis untuk tidak ditahan, “ tegasnya.

Ismunadi menambahkan, sampai sekarang saya masih menanggih janji hasil sidang kode etik yakni  unit PPA masih diwajibkan untuk mencari tersangka tersangka Lilis sampai ketemu. Namun nampaknya pihak Unit PPA terkesan tutup mata dan masa bodoh, “ saya yang tidak iklas dan sedih, kedua anak saya yang satu berusia 11 tahun dan 3,5 tahun yang seharusnya sekolah dan bermain, dibawa serta buron sama Ibunya tersangka Lilis selaku DPO. Dan inilah yang menjadi saya terus ngotot terhadap pihak kepolisian untuk segera menangkap tersangka Lilis. Apapun akan saya lakukan untuk kedua anak saya, “pungkasnya.(dadang).  

Terkait Mengambil Listrik Untuk Pengerjaan Proyek, CV. Duta Sahara Dapat Terjerat Hukum dan Terkena Sanksi



Suryono, ST. M.Si. Kepala Bagian Pengendalian Pembangunan Setda Pemerintah Kabupaten Indramayu.

Indramayu, Dialog – 28/11/2016 – Terkait dengan pengambilan Listrik dari Kantor Dinas Kependudukan dan Cacatan Sipil (Disdukcapil) Pemerintah Kabupaten Indramayu untuk kegiatan pelaksanaan Proyek gedung Kantor Disdukcapil Pemkab Indramayu tahap lanjutan, CV. Duta Sahara bisa terjerat hukum dan terkena sanksi, masalahnya pengambilan Listrik dari kantor  Dinas Disdukcapil Pemerintah Kabupaten Indramayu, untuk kegiatan pelaksanaan Proyek pembangunan gedung Kantor Disdukcapil Pemkab Indramayu tahap lanjutan, tidak dibenarkan. Karena setiap pelaksanaan proyek bangunan saat penawaran juga sudah termasuk menggunakan alat genset  untuk kebutuhan listriknya bukan mengambil dari kantor setempat, jelas Suryono, ST. M.Si. Kepala Bagian Pemgendalian Pembangunan Setda Pemerintah Kabupaten Indramayu.
Dikatakan Suryono, sebetulnya ini keselahan penyedia jasa karena apapun alasannya pengambilan Listrik melalui kantor yang sedang dibangun adalah menyalahi aturan. Begitu juga Dinas Ciptakarya Pemerintah Kabupaten Indramayu selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) jug harus bertanggungjawab, kenapa ada penyedia jasa yang membangun sebuah gedung ,listriknya mengambil dari kantor itu tidak ada peneguran, hal ini sama saja ada upaya pembiaran. Seperti dalam analisa pihak Pengawas juga pasti ada alat yang digunakan seperti ada tidak genset, ketika alat genset tidak ada seharusnya ditegur, “ apabila ada LSM yang akan mengadukan masalah ini ke proses hukum itu bagus-bagus saja, hal itu untuk perhatian bagi penyedia jasa yang mendapatkan proyek pembangunan gedung, jangan seenak saja mengambil listrik di kantor Pemerintah tersebut untuk kebutuhan pembangunan proyek yang menggunakan listrik, karena itu jelas merugikan uang Negara“ tegasnya.
Suryono menambahkan, bagi pemerintah selaku PPK, CV. Duta Sahara nantinya akan dikenakan sanksi akan dikurangi biaya untuk anggaran penggunakan genset, saat penerimaan pembayaran, “ tentunya pihak Pemerintah akan memberikan sanksi bagi CV. Duta Sahara, yakni berupa pemotongan saat pembayaran khususnya yang dianggarkan saat penawaran  menggunakan alat Genset untuk kebutuhan listrik, “ tandasnya.(dadang).    

Sabtu, 26 November 2016

Terkait Dianiaya Oleh Sesama PNS, Korban Penganiayaan Minta Keadilan


Indra Asmara

Indramayu, Dialog  - 15/11/2016 – Indra Asmara (46) seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang bertugas sebagai Staf Bagian Umum di Dinas Perhubungan dan Komunikasi Informasi (Dishubkominfo) Pemerintah Kabupaten Indramayu minta keadilan. Dirinya minta keadilan terkait apa yang telah dialaminya yakni dirinya mengaku telah dianiaya oleh rekan sekantornya Sudiryo yang juga sama-sama seorang PNS.
Indra Asmara yang datang ke kantor Komunitas Masyarakat Pers Anti Kekerasan dan Korupsi (KOMPAKK) Indramayu untuk mengadu, menceritakan kepada Dialog, sekitar hari Kamis tanggal 27 Oktober 2016, saya ditugaskan oleh pimpinan Dra. Siti Nurseha Kasubag Umum Dishubkominfo Pemkab Indramayu untuk mengoreksi absensi, saat saya mencari kacamata dan kembali keruangan, Sudiryo mengatakan “ rahasia-rahasia apa, kita saja belum tentu benar”, saat itu saya langsung membanting berkas absensi ke Sudiryo sambil berkata” nih silahkan kerjain saja sama kamu”, entah karena apa, saya langsung dicekik dan kepala saya dibenturkan ke lemari File Kabinet, dan bahkan kepa saya mau di hantam dengan gelas, namun sempat dilerai oleh teman yang satu ruangan, jelasnya.
Dikatakan Indra, sehubungan saya merasakan sakit di kepala, saat itu saya langsung pulang kerumah dan minta diantar Istri ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Indramayu. Setelah dilakukan pemeriksaan di RSUD, saya langsung menuju Polsek Indramayu untuk melaporkan atas penganiayaan yang saya alami. Setelah saya melaporkan atas kejadiaan penganiayaan kepada pihak Polisi, oleh Polisi, saya disarankan untuk diselesaikan secara kedinasan saja. Bahkan saat itu pula saya diantar oleh anggota polisi Polsek Indramayu ke Kantor Dishubkominfo, namun Kepala Dishubkominfonya tidak ada dikantor. Akhirnya saya kembali lagi ke Polsek Indramayu, dan disarankan untuk pulang dulu. Dan keesokan harinya Jum’at 28 Oktober 2016, saya menghadap ke Kepala Dishubkominfo, Drs. Zakaria Joko, saat itu Kadis menyarankan mencabut Laporsn Polisi, dan Kepala Dinas berjanji pada hari Senin untuk dilakukan perdamaian dengan Sudiryo. Pada hari Senin, 31 Oktober 2016, saya bersama Sudiryo didamaikan oleh Ibu Siti Nurseha bukan oleh Kepala Dinas, saat itu Ibu Siti Nurseha mengatakan, “ jangan salahkan siapa-siapa ini salahnya Ibu “, dan saat itu disuruh saling memaafkan, namun saya tidak menerima maaf begitu saja, dan setelah itu saya mendatangi Polres Indramayu untuk berkonsultasi sama salah seorang  anggota Polisi, ujarnya.
Lebihlanjut Indra mengatakan,  Pada Hari Rabu, 2 Nopember 2016, saya bersana Sudiryo dipanggil Opik Hidayat Kepala Bidang Perhubungan Darat Dishub Kominfo, yang tujuannya untuk mendamaikan, saat itu saya ditanya, habis berapa untuk pengobatannya, saya bilang habis dua ratus Ribu Rupiah, dan saat itu Opik mengatakan kepada Sudiryo agar diganti uang pengobatannya dan ditambahin. Saat itu Sudryo ngasih uang kepada  saya Tiga Ratus Ribu Rupiah sambil mengatakan, “ awas kalau kamu masih Lapor, tanggung gayanya, “ saat itu pula, saya mengatakan, maksudnya apa tanggung gayanya, saya juga bisa tanggung gayanya, “ walaupun saya waktu itu menerima uang tersebut, tetapi bukan berarti saya menerima atas perbuatan Sudiryo menganiaya saya, “ tandasnya.
Indra menambahkan, walaupun saya sudah didamaikan oleh Bapak Opik, tetapi saya meminta keadilan, pasalnya, saya pernah dianggap bermasalah saat memegang kordinator Parkir, oleh Kepala Dinas, saya di pindahkan ke Staf Bagiam Umum,  begitu juga Sudiryo yang telah menganiaya Saya, seharus Kepala Dinas juga mengambil tindakan tegas terhadap Sudiryo, “  karena ditunggu selama dua minggu tidak ada tindakan tegas terhadap Sudiryo,  sementara saya sudah tidak nyaman sekantor dengan pelaku penganiayaan, saya sempat meminta kepada Kapala Dinas, biar  saya saja yang dipindahkan. Yang anehnya saya selaku korban penganiayaan justru saya yang disudutkan dan didiami oleh teman-teman sekantor, “ pungkas Indra.
Sementara itu Kepala Dishubkominfo Pemkab Indramayu, Drs. Zakaria Joko, didampingi Kepala Bidang Perhubungan Darat Opik Hidayat saat ditemui Dialog beberapa waktu lalu membenarkan adanya kejadian penganiayaan yang dilakukan Sudiryo terhadap Indra Asmara yang merupakan bawahannya, Ia lebih lanjut mengatakan, saya pikir masalah ini sudah selesai, karena mereka sudah didamaikan, dan korban juga sudah menerima penggantian untuk pengobatan, tuturnya.
Ketika ditanya Dialog apakah penganiayaan terhadap seseorang itu perbuatan Tindak Pidana, Joko mengatakan, ya betul penganiayaan adalah tindak pidana, ya tentunya bisa diproses secara hukum. Namun kalau masih bisa diselesaikan secara kekeluargaan, lebih baik diselesaikan dulu secara kekeluargaan,” memang betul saya mengatakan kepada Indra untuk tidak melaporkan ke pihak polisi, apakah tidak dipikirkan dulu matang-matang akibatnya, karena selain nantinya tidak nyaman dalam bekerja juga akan berpengaruh terhadap jabatannya, “.  Tutur Joko.

Saat Dialog menanyakan pernyataan, “ nantinya tidak nyaman dalam bekerja juga akan berpengaruh terhadap jabatannya “, apakan pernyataan  itu bukannya mengancam Indra selaku Korban penganiayaan, Joko mengatakan, bukannya mengancam hanya mengingatkan saja, tetapi kalau Indra mengadu ke KOMPAKK maupun ke pihak Polisi bahkan ke Inspektorat, itu sih haknya Indra silahkan saja,” tandas Joko. (dadang).